Hosting Website Gratis di Gitlab

Gitlab sebuah perusahaan penyedia layanan hosting Git. Mirip Github tapi lebih ekonomis. Salah satu bedanya, di Gitlab, akun gratisan bisa punya private project, kalo di Github semuanya public / opensource, kecuali kalo kita pake akun berbayar.

Kalo Github punya Github Pages, Gitlab juga punya Gitlab Pages. Layanan ini bisa kita pake untuk hosting website gratisan & bisa sekalian belajar Git ( buat yang belum tahu).

Silakan daftar dulu kalo belum punya akun Gitlab. Saya tunggu …

Udah?

Bagus.

Continue reading →

Mengenal VueJS – 01

Dalam artikel ini saya mau kasih sedikit intro tentang library yang sedang naik daun, namanya Vue. Ini adalah library JavaScript untuk bikin UI. Kalo dikelompokin, mungkin bisa satu grup dengan ReactJS. Vue bisa dipake untuk macem-macem keperluan, mulai dari yang sederhana untuk bikin komponen UI, sampai SPA (Single Page Application). Popularitas Vue meroket antara lain karena jadi library default bawaan Laravel 5.

Progressive Framework. Begitu kata Vue Guide. Maksudnya, kita bisa pake Vue sedikit-sedikit. Ga perlu langsung satu website pake Vue semua. Bahkan untuk satu halaman, kita bisa pake Vue seperlunya dulu. Kalo mau migrasi website/aplikasi yang udah jadi dari framework lain ke Vue juga bisa pelan-pelan. Ga perlu gerudukan semua komponen UI langsung ganti.

Sebelum memulai silakan bikin file HTML yang isinya ada skrip ini. Atau nanti langsung edit aja contoh kode di bawah yang saya share di Codepen.

<script src="https://unpkg.com/vue/"></script>

Continue reading →

Tips JavaScript : Throttle & Debounce

Apa itu throttle & debounce ? Berikut ini penjelasan singkat & contohnya.

Dua-duanya dipake untuk optimasi, khususnya untuk fungsi-fungsi kompleks yang dijalanin berulang kali. Cuman cara & metodenya yang beda.

Throttle

Throttle: Memastikan sebuah function hanya dijalankan satu kali dalam satu rentang waktu.

Dalam contoh di bawah ini, saya bikin dua listener untuk event scroll. Yang satu normal, ga pake throttle.

See the Pen Throttle by Anggie Bratadinata (@masputih) on CodePen.

Sambil scrolling coba perhatiin, nilai scrollY di dua listener itu sama, tapi listener yang ga pake throttle lebih sering dijalanin (call count-nya lebih banyak).

Continue reading →

Tips JavaScript Bagian 1 – Tipe Data dan Variabel

Dalam artikel kali ini, saya jelasin beberapa poin dalam pemrograman JavaScript yang sebenernya penting tapi sering ga diperhatiin.

1. Data Numerik

Kebanyakan bahasa pemrograman punya beberapa tipe data numerik ( int, float, dll ) tapi JavaScript hanya punya satu yaitu number.

typeof 100; // number
typeof 10.1; // number
typeof -2.2; // number

Semua angka dalam JavaScript adalah double-precision floating-point. Ini adalah bilangan 64-bit. Detilnya silakan baca sendiri di Wikipedia.

Operasi matematika pake bilangan floating-point akan menghasilkan aproksimasi ( ga 100% akurat ) karena ada pembulatan. Contoh:

var a = (0.1 + 0.2) + 0.3; // 0.6000000000000001
var b = 0.1 + (0.2 + 0.3); // 0.6

2. Hati-hati dengan Konversi Implisit

JavaScript adalah bahasa yang terbilang sangat “pemaaf“. Jadi kalo kita bikin operasi matematika pake data non-numerik, kode kita tetep jalan biarpun hasilnya belum tentu yang kita mau. Ini karena JS secara implisit melakukan konversi data.

Continue reading →

E-Book Belajar TypeScript

Pengen belajar TypeScript tapi dokumentasinya bikin pusing? Nggak ngerti apa itu TypeScript?

TypeScript adalah bahasa pemrograman berbasis JavaScript yang menambahkan fitur strong-typing & konsep pemrograman OOP klasik ( class, interface). Di dalam dokumentasinya, TypeScript disebut sebagai super-set dari JavaScript, artinya semua kode JavaScript adalah kode TypeScript juga. Kompiler TypeScript menterjemahkan (transpile) sintaks TypeScript ke dalam JavaScript standar yang sudah kita kenal.

belajar-typescript

Tentunya untuk sintaks/konsep OOP belum didukung di JavaScript hanya dipakai oleh TypeScript Compiler (TSC) untuk memverifikasi kode TypeScript yang kita tulis & nggak ada di file JavaScript hasil kompilasi. Bukan berarti konsep ini nggak berguna, justru sebaliknya adanya fitur ini membuat kita bisa menulis aplikasi yang kompleks dengan relatif lebih mudah tanpa perlu pusing mikirin dukungan browser (hasilnya toh tetap JavaScript).

Dengan seting default, kode JavaScript hasil proses kompilasi adalah kode standard yang bisa dijalanin di semua browser modern yang mendukung ECMAScript 5 (JavaScript 1.5). Kalo kita lagi sial dan harus mendukung browser jadul yang hanya support ECMAScript 3.0 (JavaScript 1.3), misalnya Internet Explorer 8, kita bisa atur compiler supaya hanya men-generate kode yang kompatibel dengan JS1.3.

Jadi kayak yang bisa kita baca di website nya,

Mulai dengan JavaScript, diakhiri dengan JavaScript.

Ebook bisa diunduh di Leanpub: Belajar TypeScript

Gratis. Tapi kalo mau kasih uang rokok ya silakan 🙂