Rust 101: Hello Rust

Rust adalah bahasa pemrograman yang diciptakan oleh Graydon Hoare di Mozilla Research. Bahasa ini secara sintaks mirip C++ tapi dirancang dengan manajemen memori yang lebih baik tanpa mengorbankan kecepatan. Rust bersifat generik & bisa dipake untuk membuat software mulai dari OS sampe browser, dari embedded-systems sampe Cryptocurrency. Beberapa proyek-proyek high-profile yang pake Rust antara lain NPM, Firefox, dan Dropbox.

Dalam artikel kali ini, saya bahas sedikit tentang Rust. Mulai dari instalasinya.

Instalasi

Kita bisa instal Rust pake installer resmi dari websitenya. Kalo pake Mac, bisa juga pake Homebrew. Yang pake Windows, bisa coba instal pake Chocolatey.

$ brew install rustup
$ rustup-init

... bla bla bla

1) Proceed with installation (default)
2) Customize installation
3) Cancel installation
> 1

Untuk mastiin instalasi udah bener, kita coba bikin Hello world.

Continue reading →

JS : Pemrograman Asinkron

Mayoritas kode JavaScript yang pernah kita tulis bersifat synchronous, artinya setiap baris kode dieksekusi secara berurutan setelah baris sebelumnya selesai. Tapi nggak jarang juga kita nulis kode yang bersifat asynchronous, yaitu function yang nggak langsung selesai & selama function ini belum selesai, JavaScript engine bisa jalanin kode kita yang lain. Salah satu contoh kode asinkron yang paling sering kita tulis adalah network request, baik pake XMLHTTPRequest atau, kalo pake JQuery, ya $.ajax().

Contoh paling sederhananya begini,

console.log(1);
console.log(2);
console.log(3);
console.log(4);
console.log(5);

Kode di atas semuanya bersifat sinkron, satu baris dijalanin sesudah baris sebelumnya selesai. Outputnya begini,

1
2
3
4
5

Kode yang asinkron contohnya seperti di bawah ini,

console.log(1);
console.log(2);

setTimeout(()=>{
  console.log(3, 'asinkron'); // asinkron
},500);

console.log(4);
console.log(5);

Outputnya begini, keliatan bedanya kan? Kode yang asinkron baru selesai setelah baris terakhir dijalanin.

1
2
4
5
3 'asinkron'

Continue reading →

End-to-end Testing dengan The Intern

Apa itu end-to-end testing ?

Sebagai programer, tentu kita semua udah kenal yang namanya testing. Ada macam-macam test yang bisa kita pake untuk meningkatkan kualitas kode dan/atau aplikasi yang kita buat. Yang paling umum dan wajib adalah unit-test untuk memvalidasi alur/logika program dalam unit yang paling kecil yaitu function.

End-to-end testing, sering disingkat E2E, adalah untuk memvalidasi cara kerja aplikasi atau website dari sudut pandang seorang user. Jadi dalam E2E testing kita tulis skrip untuk mensimulasikan behavior atau tindakan-tindakan seorang user — mirip bikin bot.

Dalam artikel ini, saya akan bahas tentang E2E testing pake sebuah framework yang bernama The Intern. Ada beberapa framework yang bisa kita pake selain The Intern, antara lain: Cypress, Nightwatch, TestCafe, dan yang paling tua, Selenium. Berdasarkan pengalaman saya, The Intern adalah yang paling seimbang antara fitur & tingkat kerumitannya.

Continue reading →

Cara Mudah Pakai Environment Variable dengan Webpack

Misalnya kita punya project web dengan konfigurasi environment yang beda antara dev & production (seperti normalnya projek web) kayak gini:

DEV PRODUCTION
DB 192.168.0.99 192.168.0.100
Assets dev.assets.com live.assets.com
API server1.api.com server2.api.com

Ada beberapa cara untuk pake variabel-variabel itu di aplikasi kita antara lain:

  1. Pake HtmlWebpackPlugin untuk injeksi file dev.env.js atau prod.env.js ke file HTML dalam bentuk tag <script>
  2. Bikin satu file env.js yang isinya bisa dev atau production vars tergantung di direktori mana dia dibuat. File ini nanti dimuat oleh aplikasi pake <script>.
  3. Ada juga yang pake JSON.

Untuk projek yang pake ES6 & Webpack, ada cara yang menurut saya lebih sip. Intinya environment vars kita bikin sebagai modul ES6, jadi bisa diimpor kayak modul ES6 biasa.

Kita bikin dua file, satu untuk masing-masing env:

//file: dev.env.js
export default {
    type:'dev',
    db:'192.168.0.99',
    assets:'dev.assets.com',
    api:'server1.api.com'
}

Satu lagi untuk production:

//file: production.env.js
export default {
    type:'production',
    db:'192.168.0.100',
    assets:'live.assets.com',
    api:'server2.api.com'
}

Di file index.js & semua file yang butuh baca environment vars:

//file: index.js

//import pake nama alias, jadi modul ini (index)
//nggak perlu tau itu file dev.env.js atau prod.env.js.
import CONFIG from 'env-config';

console.log('CONFIG',CONFIG);

Gimana caranya supaya skrip *.env.js bisa dipake sebagai modul kayak di atas?

Continue reading →

ReactJS : Higher Order Component

Higher-order Component (HOC) adalah teknik untuk bikin komponen ReactJS baru dari komponen yang udah ada. Jadi kita bisa bikin komponen baru yang punya fitur atau fungsi tambahan dengan cara komposisi yaitu satu atau lebih komponen digabung & dibungkus komponen lain.

Kalo di bahasa OOP, ini cocok sama prinsip: Favor composition over inheritance

Misalnya kita punya komponen A & B. Kita bisa pake HOC untuk bikin komponen baru C yang isinya A & B plus fitur-fitur & komponen/elemen DOM yang lain. Jadi komponen C kurang lebih bisa digambarin kayak begini. Dua komponen yang lain tetep bisa dipake sendirian:

Contoh implementasi HOC antara lain di React-Redux, di mana kalo kita mau bikin komponen yang bisa merespon update di Store & kirim objek Action kita tulis kode begini:

Continue reading →