Flexbox

Flexbox (Flexible Box) adalah fitur CSS3 yang mempermudah kita mendistribusi ruang kosong & mengatur ukuran elemen-elemen dalam sebuah kontainer. Jadi fungsi utamanya adalah untuk mempermudah pembuatan kontainer yang ketika ukurannya berubah, elemen di dalamnya bisa otomatis menyesuaikan ukuran & posisi.

index.html
<!DOCTYPE html>
<html lang="en">
  <head>
    <link rel="stylesheet" href="index.css" />
  </head>
  <body>
    <div class="flex-container">
      <div class="flex-item">1</div>
      <div class="flex-item">2</div>
      <div class="flex-item">3</div>
      <div class="flex-item">4</div>
      <div class="flex-item">5</div>
      <div class="flex-item">6</div>
      <div class="flex-item">7</div>
      <div class="flex-item">8</div>
    </div>
  </body>
</html>

Untuk bikin flexbox kita cukup pakai display:flex.

index.css
html,
body {
  padding: 0;
  margin: 0;
}

.flex-container {
  display: flex;
  outline: 1px solid green;
  background: lightgreen;
  margin-bottom: 12px;
}

.flex-item {
  background: lightyellow;
  padding: 12px;
  outline: 1px solid orange;
}

Justify Content

Secara default, posisi elemen-elemen di dalam kontainer adalah rata kiri, mirip kalo kita bikin elemen float. Selain itu lebarnya juga tetap, nggak berubah.

Continue reading →

Mengenal Hook di ReactJS

Sejak React 16.8 ada fitur baru yang namanya hook. Kalo baca di dokumentasinya, tujuan utama fitur ini adalah supaya komponen-komponen fungsional ( yg ga dibikin pake class ) punya akses ke API life-cycle. Tapi dalam prakteknya, manfaat hook lebih dari sekedar life-cycle. Kita bisa pake hook untuk bikin blok logic yang bisa dipake di mana-mana. Kalo Anda pernah belajar Design Patterns, hook sekilas mirip dengan Strategy Pattern, cuma lebih simpel.

Hooks Bawaan React

Ada beberapa hook bawaan React yg relatif paling sering dipake yaitu useState, useRef, useEffect, & useReducer.

useState

Dalam versi React sebelumnya, komponen fungsional sering disebut juga stateless component karena ga punya state. Tapi istilah stateless ga lagi akurat karena ada useState. Jadi sekarang semua komponen baik yang class-based ataupun yang functional bisa punya state.

Continue reading →

Rust 101: Hello Rust

Rust adalah bahasa pemrograman yang diciptakan oleh Graydon Hoare di Mozilla Research. Bahasa ini secara sintaks mirip C++ tapi dirancang dengan manajemen memori yang lebih baik tanpa mengorbankan kecepatan. Rust bersifat generik & bisa dipake untuk membuat software mulai dari OS sampe browser, dari embedded-systems sampe Cryptocurrency. Beberapa proyek-proyek high-profile yang pake Rust antara lain NPM, Firefox, dan Dropbox.

Dalam artikel kali ini, saya bahas sedikit tentang Rust. Mulai dari instalasinya.

Instalasi

Kita bisa instal Rust pake installer resmi dari websitenya. Kalo pake Mac, bisa juga pake Homebrew. Yang pake Windows, bisa coba instal pake Chocolatey.

$ brew install rustup
$ rustup-init

... bla bla bla

1) Proceed with installation (default)
2) Customize installation
3) Cancel installation
> 1

Untuk mastiin instalasi udah bener, kita coba bikin Hello world.

Continue reading →

JS : Pemrograman Asinkron

Mayoritas kode JavaScript yang pernah kita tulis bersifat synchronous, artinya setiap baris kode dieksekusi secara berurutan setelah baris sebelumnya selesai. Tapi nggak jarang juga kita nulis kode yang bersifat asynchronous, yaitu function yang nggak langsung selesai & selama function ini belum selesai, JavaScript engine bisa jalanin kode kita yang lain. Salah satu contoh kode asinkron yang paling sering kita tulis adalah network request, baik pake XMLHTTPRequest atau, kalo pake JQuery, ya $.ajax().

Contoh paling sederhananya begini,

console.log(1);
console.log(2);
console.log(3);
console.log(4);
console.log(5);

Kode di atas semuanya bersifat sinkron, satu baris dijalanin sesudah baris sebelumnya selesai. Outputnya begini,

1
2
3
4
5

Kode yang asinkron contohnya seperti di bawah ini,

console.log(1);
console.log(2);

setTimeout(()=>{
  console.log(3, 'asinkron'); // asinkron
},500);

console.log(4);
console.log(5);

Outputnya begini, keliatan bedanya kan? Kode yang asinkron baru selesai setelah baris terakhir dijalanin.

1
2
4
5
3 'asinkron'

Continue reading →

End-to-end Testing dengan The Intern

Apa itu end-to-end testing ?

Sebagai programer, tentu kita semua udah kenal yang namanya testing. Ada macam-macam test yang bisa kita pake untuk meningkatkan kualitas kode dan/atau aplikasi yang kita buat. Yang paling umum dan wajib adalah unit-test untuk memvalidasi alur/logika program dalam unit yang paling kecil yaitu function.

End-to-end testing, sering disingkat E2E, adalah untuk memvalidasi cara kerja aplikasi atau website dari sudut pandang seorang user. Jadi dalam E2E testing kita tulis skrip untuk mensimulasikan behavior atau tindakan-tindakan seorang user — mirip bikin bot.

Dalam artikel ini, saya akan bahas tentang E2E testing pake sebuah framework yang bernama The Intern. Ada beberapa framework yang bisa kita pake selain The Intern, antara lain: Cypress, Nightwatch, TestCafe, dan yang paling tua, Selenium. Berdasarkan pengalaman saya, The Intern adalah yang paling seimbang antara fitur & tingkat kerumitannya.

Continue reading →