Making Dooitkoo – Bagian 3

Lanjutan dari Bagian 2

Server udah sip, local udah siap. Jadi sekarang waktunya coding. Fun time!

Setup Laravel

Karena baru pertama kali pake Laravel … oh, maksudnya baru pertama kali bikin full-blown web app sejak 2005, banyak yang harus dibaca-baca dulu, manual PHP, dokumentasi JavaScript di Mozilla, dll. Dan yang paling penting sekarang, seting local server ngikutin petunjuk yang ada di dokumentasinya.

Karena ada 3 konfigurasi yg berbeda, saya edit file paths.php & masukin path untuk konfigurasi local, staging, dan production server.

$environments = array(

	'dev' => array('http://localhost*', '*.dev'),
	'staging'=>array('http://staging.dooitkoo.com','web127.webfaction.com'),
	'production'=>array('https://dooitkoo.com','https://www.dooitkoo.com','web127.webfaction.com')

);

Kode di atas artinya, untuk domain localhost dan semua yg berakhiran .dev, pake konfigurasi yang ada di direktori /dev/, untuk domain staging.dooitkoo.com pake yang ada di /staging/, dan seterusnya. Continue reading →

Making Dooitkoo – bagian 2

Lanjutan dari Bagian 1

Tahap berikutnya setelah seting domain dsb adalah mempersiapkan application server dan local development environment, plus alat pendukung lainnya. Karena servernya pake linux, untuk development saya pake Mac yang juga berbasis Linux. Jadi sementara komputer windowsnya dipake utk buka dokumentasi & ngegame aja …

Server

Webfaction pake custom control panel di mana setiap website harus memiliki application dan domain. Application adalah tempat di mana saya nanti meletakkan file-file yang akan di-publish oleh Apache. Website adalah semacam container untuk application, fungsinya kurang lebih seperti file *.conf yand dipake Apache untuk ngeload website. Domain fungsinya seperti DNS manager.

Jadi pertama saya buat 2 application yaitu dooitkoo dan dooitkoo_staging, masing-masing untuk versi live/production dan testing. Kemudian saya bikin 2 database, yg namanya juga dooitkoo & dooitkoo_staging & saya bikin 2 website yang namanya sama.

Saya ga mau semua file & folder application server berada di lokasi yang bisa diakses lewat web. Jadi saya bikin 2 aplikasi tambahan bernama dooitkoo_public & dooitkoo_staging_public yang berupa symbolic link. Kedua aplikasi tambahan nantinya akan menjadi pointer ke direktori “/public” yang ada di Laravel. Website “app” saya atur supaya pake symlink dooitkoo_public, website “staging” saya arahkan ke dooitkoo_staging.

Apps

Continue reading →

Making Dooitkoo.com – bagian 1

Setelah lebih dari 10 tahun bekerja sebagai contract developer & bikin produk buat orang lain, saya pikir udah waktunya saya punya produk sendiri yang punya nilai komersial. Awalnya saya ingin membuat mobile game atau menjual web template tapi setelah dipikir masak-masak, saya lebih condong ke pembuatan aplikasi yang benar-benar memiliki value dan bisa membantu banyak orang.

Berdasar pengalaman pribadi, saya bukan orang yang bisa mengatur keuangan, timbul ide untuk membuat aplikasi semacam financial assistant untuk membantu mencatat segala macam transaksi dan merencanakan keuangan. Saya yakin bukan hanya saya yang sering sembrono dalam masalah keuangan jadi saya pikir aplikasi ini punya prospek. Apalagi di Indonesia belum banyak aplikasi sejenis, artinya pangsa pasar masih terbuka lebar.

Artikel ini & artikel-artikel lanjutannya saya tulis dan update selama saya mengembangkan aplikasi ini. Jadi semacam developer note yang saya harap bisa bermanfaat buat developer lain.

Planning

Fail to plan, plan to fail

Ide dasar udah ada. Sebelum lanjutin, riset dulu fitur umum yang biasanya ada di aplikasi finansial. Liat-liat Less Accounting, Mint, dan Freshbooks. Bikin daftar fitur yang bisa diaplikasikan di Dooitkoo & cocok untuk orang Indonesia.

Selanjutnya, apa bentuk deliverable-nya.

Continue reading →